Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando ~6 - Target Hukum Online

Breaking

Berita Seputar Hukum Dan Kriminal

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 25 Juli 2017

Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando ~6

Targethukumonline. Sejarah - Peltu Umar Sumarsana sudah mulai menggerakkan pasukannya. Mungkin karena Umar adalah seorang Pajuang Angkatan 45, maka ia berani mengembangkan perintah penutupan menjadi pengejaran dan penyergapan.

Ilustrasi 
Sebelumnya, Brigjen TNI M. Jusuf selaku Panglima Operasi Kilat, menjanjikan bahwa pasukan yang berhasil meringkus Kahar hidup atau mati, akan diberi hadiah pulang ke basis dengan angkutan pesawat udara.

Dalam perkembangan selanjutnya, tanggal 3 Februari 1965 pukul 03.00 dinihari, peleton Umar Sumarsana berkekuatan 18 orang masuk sektor A, kemudian menyeberangi Sungai Lasolo yang sedang banjir. Pukul 04.00 tepat, Peleton Umar mengepung satu rumah yang diyakin sebagai tempat persembunyian Kahar Muzakkar.

Peltu Umar membagi peletonnya menjadi empat poros. Satu poros disiagakan diseberang sungai Lasolo untuk menutup pengunduran Kahar. Satu poros penutup ditempatkan disayap kiri, dan satu poros lainnya disayap kanan, sedangkan poros tengah bertugas sebagai penyergap.

Menjelang terbitnya matahari terlihat seorang keluar dari rumah yang dikepung, kemudian orang tersebut berlari kesamping rumah. Ia kaget karena melihat orang asing berada disekitarnya. 

Dalam suasana remang-remang pagi, Kopral Satu Ili Sadeli tahu pasti bahwa orang yang diincarnya itu adalah Kahar Muzakkar, karena sebelumnya seluruh peleton telah dibekali dengan foto Kahar.

Melihat orang yang dipastikan sebagai Kahar Muzakkar itu menggenggam sebuah granat tangan, Koptu Ili Sadeli tidak mau ambil resiko. Ia melepaskan rentetan tembakan menggunakan senapan mesin regu BAR kaliber 7.62mm dan tepat mengenai sasaran.

Kahar Muzakkar tewas seketika, tubuhnya tertelungkup hanya berjarak dua meter dari rumah tempat persembunyiannya. Ia terkena tembakan empat peluru didada dan sebeuh peluru menyerempet leher. Kahar tewas dengan hanya mengenakan kaos oblong putih dan celana hijau tentara.

Dengan tewasnya Kahar Muzakkar, maka berakhirlah operasi pengejaran selama 14 tahun. Jenazah Kahar Muzakkar dibiarkan tergeletak ditempatnya tewas selama dua malam, untuk menunggu kedatangan pejabat Operasi Kilat yang akan melakukan inpeksi. 

Tewasnya Kahar langsung dilaporkan ke Komob Operasi Kilat di Pakue dan Markas Komando Komando Antar Daerah Indonesia Timur (Koandait) di Makassar.

Sore harinya, Brigjen TNI M. Rukman, Panglima Koandait merangkap Panglima Operasi Tumpas berangkat menuju Paku dengan kapal laut. 

Sementara itu, Brigjen TNI M. Jusuf memerintahkan Kepala Staf Operasi Kilat, Kolonel Inf. Solichien GP untuk melakukan inpeksi langsung ke lapangan, menerima laporan langsung dari Peltu Umar Sumarsana di Laiyu, dan membawa jenazah Kahar Muzakkar ke Makassar dengan helikopter.

Tanggal 5 Februari sekitar pukul 09.00 pagi, Kolonel Inf. Solichien GP didampingi Danyonif 330/Para Kujang I Mayor Inf. Yogie S. Memed dan beberapa perwira lain, mendarat di Desa Litu dengan helikopter Mil-4 yang diterbangkan oleh Kapten Udara Sularso, seorang penerbang lulusan Cakra I/Yugoslavia. 

Selanjutnya, Kolonel Solichien dan rombongan berjalan kaki sekitar 10 menit ketempat tertembaknya Kahar Muzakkar.

Didekat jenazah Kahar Muzakkar, Kolonel Solichien menerima laporan langsung dari Peltu Umar Sumarsana yang menjelaskan secara terperinci kronologi tertembak matinya “Presiden/Khalifah Negara Persatuan Islam Indonesia” itu.

Dikemudian hari, Sintong ditegur oleh salah seorang Asisten Brigjen TNI Moeng Parhadilmoeljo, Komandan RPKAD, wilayah itu kan sektor A..daerah operasimu, kenapa bukan kamu yang menyergap Kahar.. ?

Siap.! Perintah dari Panglima Jusuf saya dan pasukan selaku pasukan penutup, kami tidak berani melanggar perintah!” Perintah Panglima Jusus kepada Sintong sangat jelas, yaitu menutup rapat daerah itu, mencegah lolosnya Kahar. 

Ia tidak berani melanggar perintah, meskipun wilayah tersebut medan operasinya. Seandainya Sintong yang melakukan penyergapan, terdapat dua kemungkinan. Pertama, Kahar berhasil disergap hidup atau mati, kedua, Kahar lolos masuk hutan tebal di sektor A.

Berkat penutupan yang dilkukan oleh Peleton 1 RPKAD, Kahar Muzakkar tidak berhasil menerobos keluar, sehingga tidak dapat menerobos masuk hutan.

Jenazah Kahar Muzakkar diterbangkan menggunakan helikopter Mi-4 dari Desa Laiyu menuju Makassar. Menjelang tengah hari, jenazah tiba di Makassar, diangkut dengan ambulan dan dibawa ke rumah sakit.

Sampai sekarang pun, mungkin tidak ada seorang warga masyarakatpun yang mengetahui dimana jenazah Kahar Muzakkar dimakamkan. Bahkan anggota militerpun, sangat kecil yang mengetahui kuburannya.

Banyak yang mengatakan, bahwa rahasia kuburan Kahar dipegang dan disimpan oleh Panglima Jusuf. Namun, sampai meninggalnya Pak Jusuf, misteri kuburan Kahar tetap tersimpan rapat-rapat. (€ko)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad