Hankam - Sambil memegangi tangannya yang tercabik peluru musuh, Manuhua memerintahkan kepada Sutarmono agar segera lari menyelamatkan diri. Suara tembakan masih ramai sekali, meskipun kekuatan tidak seimbang, tapi mereka tetap melakukan perlawanan sebisanya.
Dalam hujan tembakan musuh dan situasi yang gawat, Sutarmono tidak sampai hati meninggalkan komandannya yang tetap bertempur dalam keadaan terluka melindunginya dari belakang, namun perintah sang komandan harus dituruti. Sutarmono pun meninggalkan lokasi pertempuran sambil tetap mengawasi sang komandan dari jauh.
Sutarmono menyaksikan ketika sang komandan yang tinggal bertempur sendirian kehabisan peluru, memaksa terus melawan dengam sangkur ditangan. Ketika musuh sudah mengepung, siraman peluru mencabik-cabik tubuh Manuhua.
Dari arah samping, dua orang penduduk meluru dengan parang dan tombak dan langsung menghujamkan ketubuh Manuhua dan kepala Danki 3 PGT itu dipenggal dengan sadis. Letnan Satu Manuhua, eks KNIL kelahiran Ambon yang bergabung dalam TNI pasca RMS di Maluku, gugur sebagai Pahlawan Trikora.
Semuanya disaksikan Sutarmono dari kejauhan dengan mata tak berkedip.
Sutarmono terus berlari sambil menenteng senjata rampasannya. Karena berat juga pelurunya habis, senjata itu dibuang. Dia tahu kalau dirinya sedang diburu, bahkan Belanda mengerahkan sebuah heli yang berputar-putar coba mengejarnya, dia lari sekuat tenaga sambil menyelinap dibalik pepohonan.
Saat kritis, Sutarmono menyelusup dibawah daun-daun kering dan ranting, kemudian bersembunyi untuk beberapa lama dengan badan mematung tidak bergerak sedikitpun. Selama tiarap rata dengan tanah, dia mendengar serdadu Belanda yang tengah memburunya.
Sutarmono mendengar jelas pembicaraan mereka kalau Manuhua dan seluruh anggotanya sudah dihabisi, tinggal satu yang tersisa yaitu dirinya. Kemampuan menyelinap Sutarmono sungguh luar biasa, sampai-sampai Belanda yang hanya beberapa meter jaraknya tidak mengetahuinya. Lama kelamaan Belanda dan KNIL menyerah lalu pergi.
Setelah dirasa aman, ia berusaha memantau lokasi sekitar namun belum berani keluar dan tetap posisi tiarap. Karena lelah akhirnya ia tertidur pulas. Ketika bangun, Sutarmono baru sadar kalau tangan dan kakinya sudah dipenuhi pacet. Dengan badan lunglai, Sutarmono berjalan sambil menyeret G3 nya.
Dia sadar bahwa disekelilingnya masih banyak musuh, dan dia adalah orang yang paling dicari-cari karena sudah menewaskan tiga serdadu bule Belanda.
Tiga hari kemudian ia baru bertemu dengan teman-teman nya dari kelompok dua yang datang menyusul. Oleh Sutarmono diceritakan tentang apa yang terjadi dan yang menimpa sang komandan kompi.
Sutarmono dan rekan-rekannya dimana saja berada selalu dibayangi patroli musuh. Akhirnya dalam suatu kesempatan kontak senjata pecah, koptu Khusaeri dan seorang lagi rekannya gugur tertembak dan jenazahnya jatuh kedalam sungai yang penuh dengan buaya.
Setelah sekian lama melakukan perlawanan dengan jumlah kekuatan dan persenjataan yang semakin berkurang, akhirnya Sutarmono dan empat lagi rekannya tertawan juga. Mereka ditahan disuatu tempat yang disebut KL, kemudian pada bulan Juli dipindahkan ke penjara Sorong.
Sutarmono memang orang yang paling dicari-cari Belanda, beruntung tidak ada yang hapal wajahnya. Ia pernah dipukuli sampau babak belur karena tidak mengakui namanya Suparyono, ia mengaku bernama Sutardjo. Mengapa Belanda ngotot kalau ia bernama Sutarmono, karena salah satu anak buah Manuhua yang diperkirakan masih hidup adalah Sutarmono, hal ini sesuai dengan dokumen yang dimiliki oleh Belanda.
Dari penjara Sorong dia dikirim ke Biak, dan empat hari kemudian dibuang ke Pulau Wundi. Di sini ia tetap berkeras bahwa namanya adalah Sutardjo, bukan Sutarmono. Namun begitu, kedoknya terbuka ketika Belanda diam-diam menanyakan kepada seseorang yang bernama Soepangat.
Dari situ Belanda mengetahui nama sebenarnya, Robertus Sutarmono, anggota PGT Kompi 3, seorang Katolik yang taat. Mungkin karena Katolik, mulai saat itu dia mendapat perlakuan yang berbeda dari teman-temannya. Di penjara Pulau Wundi, Sutarmono dikumpulkan bersama kru T-440 yang pesawatnya tertembak.
Sementara anggota PGT yang dijebloskan di penjara Sorong juga mendapat perlakuan yang tidak baik, disini mereka ditahan di dapur disebuah rumah bekas kantor polisi. Selama dalam tahanan dilakukan interogasi dan penyiksaan. Kepada mereka juga di tanyakan kedudukan, persenjataan dan kekuatan pasukan.
Pemeriksaan paling kejam dilakukan oleh seorang anggota polisi Belanda asli Jombang yang beristrikan wanita Belanda. Lain halnya dengan Kepala Polisi Sorong berpangkat Letkol yang ibunya berasal dari Purworejo, cukup bersimpati terhadap para tahanan.~bersambung ~(€ko)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar