Targethukumonline. Sejarah - Sebagai seorang perwira lulusan AMN, ia datang ke kompi Suryo dengan penuh percaya diri.
Pengalamannya selama 4 bulan dalam peleton infanteri dapat digunakan sebagai bekal dasar dalam memimpin Peleton 1 Kompi RPKAD yang para Bintara dan tamtamanya merupakan orang-orang yang sangat terlatih.
Standard persenjataan yang dipergunakan antara pasukan infanteri dan pasukan para komando juga berbeda.
Ketika Sintong menjadi danton infanteri, ia hanya membawa sepucuk pistol dan para anggotanya menggunakan senapan standard US M1 Garand, senapan mesin regu berupa Bren kaliber 7.62mm dan diperkuat dengan Mortir 5 tingkat peleton.
Sementara, senjata organik pasukan para komando lebih canggih, karena senjata standard mereka sudah menggunakan AK-47, Senapan Mesin regu Degtrayev RPD atau AKM kaliber 7.62mm.
Selain itu, setiap regu membawa peluncur roket RPG-2 buatan Yugoslavia sebagai senjata penghancur perkubuan maupun penembus baja, dengan daya tembus tiga kali lebih besar dibanding proyektil HEAT 57mm recoilless rifle.
Sintong sebagai danton, juga membawa senapan serbu AK-47 untuk mempertinggi daya tembak dan pistol Makarov kaliber 9mm.
Untuk komunikasi radio, peleton masih menggunakan AN GRC-9, sejenis radio yang banyak digunakan dalam PD-II.
Pada bulan September 1964, Markas Komando mobile Operasi Kilat yang berada di Pare-Pare Sulawesi Selatan, dipindahkan ke kota Pakue, di Sulawesi Tengah yang menghadap Teluk Bone.
Ini dilakukan setelah Anda Rawe, salah seorang istri Kahar Muzakkar menyerah. Markas Komando Yonif 330 Para Kujang I Kodam VII Siliwangi yang semula berada di Pare-Pare juga digeser ke Pakue.
Skuadron 6/Helikopter AURI yang berpangkalan induk di Pangkalan Angkatan Udara Hussein Sastranegara, Bandung menempatkan satu flight helikopter di Pakue berkekuatan lima Mil Mi-4 dengan status B/P pada Komando Regional Udara II/Makassar. Kedatangan lima unit helikopter tersebut ke Pakue, diangkut dengan kapal ALRI dalam dua gelombang.
Dalam mendukung jalannya operasi, Helikopter Mi-4 digunakan untuk melakukan heliborne assault didaerah sasaran dengan cara landing maupun free jump, melakukan dukungan logistik, evakuasi air medic, bantuan tembakan udara terhadap pasukan darat dengan senapan mesin berat Degtyarev DShK 38 12.7mm, dan sebagai helicopter command and control post bagi Operasi Kilat.
Setiap terdapat informasi yang diyakini sebagai A1 dapat segera dilancarkan heliborne assault operation dengan menggunakan pasukan RPKAD.
Operasi ini merupakan prakarsa Pangdam XIV/Hasanuddin Brigjen TNI M. Jusuf. Selain itu dengan adanya penempatan satu flight helikopter di Pakue, Pangdam M. Jusuf dapat lebih sering melakukan inspeksi lapangan.
Selesai melaksanakanOperasi Kilat, tidak satupun helikopter AURI tersebut yang kembali ke basisnya di pangkalan udara Hussein Sastranegara Bandung.
Sebuah Mi-4 terbakar habis pada saat refueling di Pakue, sebuah Mi-4 under shoot masuk laut ketika melaksanakan pendaratan malam di Pakue, dua Mi-4 masing-masing melakukan auto-rotation akibat mesin mati, sedangkan sebuah Mi-4 lainnya disebabkan kerusakan pada clutch system dan sebuah Mi-4 habis usia pakai.
Komob Operasi Kilat di Pakue mengendalikan seluruh operasi pasukan di Sulawesi Tenggara dengan titik terberat di sektor A pegunungan dan sektor B dataran rendah dan pantai yang mencakup daerah yang hampir sama luasnya. Sektor A yang berupa dataran tinggi dan pegunungan menjadi medan operasi RPKAD yang berkekuatan 1 kompi Para Komando.
Sedangkan sektor B yang terdiri dari dataran rendah menjadi daerah operasi Batalyon Infanteri 330 Para Kujang I. Mayor Inf. Yogie S. Memed mengerahkan 4 Kompi penuh yang terdiri dari 3 Kompi Senapan dan Kompi D sebagai bantuan, mereka menyisir daerah sektor B menuju sektor A.
Dalam pengejaran terhadap Kahar Muzakkar, Kapten Inf. Suryo menggerakkan peleton 1 pimpinan Sintong dan Peleton 2 pimpinan Abdulrachman ke Lawete dan Lawali di sektor A.
Kedua peleton ini dipacu bergerak terus menerus sebagai imbangan terhadap gerakan pasukan Kujang I yang berkekuatan 600 orang.
Peleton 3 digunakan sebagai cadangan dan tetap berada di Mako RPKAD di Lambatu Sulawesi Selatan bersama dengan kelompok kompi.
Sintong menggerakkan anggota peletonnya dalam bentuk tim kecil yang terdiri lima sampai tujuh orang di daerah pegunungan yang diselimuti hutan tebal. Ketika Peleton 1 berpatroli di hutan, anggotanya menemukan sebuah bivak yang sangat bagus, ditinggalkan dalam keadaan kosong.
Sintong memastikan bahwa bivak ini pernah dipakai oleh Kahar Muzakkar, karena bivak DI/TII lainnya tidak ada yang sebagus itu. Berdasarkan analisa lapangan, Sintong dapat memperkirakan arah pelarian Kahar selanjutnya.
Dalam melakukan pengejaran, patroli peleton 1 bergerak dari Lawate masuk desa Lawali, kemudian menyeberangi Sungai Lasolo ke sisi selatan dan masuk desa Laiyu. Di Desa Laiyu Sintong membuat pos untuk menjaga barang yang berupa logistik pasukan. (€.borgol)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar