Merebut Irian Jaya ~ Operasi Serigala 6 - Target Hukum Online

Breaking

Berita Seputar Hukum Dan Kriminal

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 22 Juli 2017

Merebut Irian Jaya ~ Operasi Serigala 6

Targethukumonline. Sejarah - Tiga orang anggota PGT yang dapat meloloskan diri dari penyergapan, terus berjalan untuk menemukan rekan-rekannya yang lain. Dalam perjalanan mereka menemukan sebuah parasut putih dan kerangka manusia yang masih terikat. Ketika diteliti, kerangka tersebut adalah Koptu U Sudjono.

Perlengkapan yang dibawa Sudjono masih utuh, termasuk senapannya yang masih berfungsi dengan baik. Yang lain seperti nasi kaleng dan rokok sangat membantu Roedjito dan rekan-rekannya untuk bertahan hidup.

Beberapa hari kemudian tepatnya 2 Juni, mereka menemukan beberapa tandan pisang masak ditengah hutan. Tampa menunggu lebih lama mereka langsung melahapnya. Setelah habis, Roedjito bermaksud mau "nambah" lagi. Tiba-tiba dari balik pohon muncul pasukan Belanda yang jumlahnya cukup banyak dan langsung melepaskan tembakan.

Pratu Gunarso yang bereaksi dengan mengangkat senjatanya langsung dihajar timah panas dan bersarang diperutnya. Gunarso langsung tersungkur berlumuran darah dan gugur tak lama kemudian akibat luka yang parah. Sedangkan Roedjito dan kedua temannya langsung ditawan.

Pada sektor lainnya, beberapa anggota yang malam penerjunan jatuh di rawa-rawa pohon bakau untuk sementara mendekam disitu. Diantaranya, Sertu U Tugimin, Koptu U Sugiono, Koptu U Subandi dan Pratu U Liud.

Selama di tempat persembunyian mereka mendengar pertempuran seru tidak jauh dari tempat mereka. Saat fajar tiba, keempatnya segera keluar dari rawa tanpa membawa ransel dan isinya, namun senjata tetap ditangan siap tembak.

Sewaktu mendekati Wersar terlihat dari jauh asrama Belanda, Tugimin langsung memperingatkan rekan-rekannya agar bersiap sedia. Baru saja selesai peringatannya, tiba- tiba mereka disiram tembakan gencar dari suatu ketinggian diperkirakan berkekuatan 1 peleton. Tugimin dan kawan-kawannya terdesak dan tertembak, selanjutnya ditawan, hanya Sugiono yang bisa meloloskan diri.

Dikemudian hari diketahui bahwa 1 peleton tentara Belanda yang menyergap Tugimin dan kelompoknya semuanya terdiri dari orang-orang Indonesia. Ketika itu mereka tengah mengundurkan diri dari asrama mereka akibat pertempuran dengan anggota PGT yang mendarat di atap markas mereka.

Setelah mendapatkan pengobatan dari Palang Merah Belanda, Tugimin di interogasi oleh seorang intel Belanda kelahiran Boyolali yang antara lain menanyakan jumlah temannya yang terjun, persenjataan perorangan, senjata bantuan serta perlengkapan lain. Orang itu memaki dan mengatakan, " Kamu itu bodoh, mau saja kamu itu disuruh dan dibohongi oleh Sukarno.

Kamu tau sendiri akibatnya, sekarang tangan kamu kena tembak!" Setelah selesai di interogasi, 1 peleton tentara Belanda tadi mundur meninggalkan Wersar menuju lapangan terbang Teminabuan dengan membawa tawanan PGT tadi.

Di penjara Teminabuan selama satu setengah bulan, mereka juga mendapat siksaan yang kejam. Dari sini mereka dipindahkan lagi ke Sorong, kemudian ke Biak, sehingga akhirnya dibawa ke Pulau Wundi. Disini telah ada anggota lainnya termasuk dari RPKAD, Menpor, Banteng Raiders, sukarelawan dan rekan mereka dari PGT.

Rekan mereka satu pesawat dalam penerjunan, Koptu U Manam jatuh dihutan dan tersangkut dipohon. Ketika berusaha turun, Manam baru sadar bahwa ransel dan perlengkapannya jatuh ke sungai dan hilang.

Setelah sendirian selama hampir sebulan di dalam hutan, hanya mengandalkan makanan dari batang dan bonggol pisang, ubi serta daun pakis, akhirnya Manam bisa bertemu dengan rekan-rekannya.

Setelah beberapa hari berkumpul, atas inisiatif sendiri peleton dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil dengan tujuan agar tidak mudah dilacak dan diburu Belanda, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang.

Kelompok Manam juga terdiri dari lima orang, ketika mendekati sungai dan akan memasuki kebun karet, mereka bertemu dengan patroli Belanda. Tak dapat di hindari kontak senjata sengitpun berlangsung, diperkirakan 8 orang musuh dapat ditewaskan, namun kelompok ini juga kehilangan anggotanya. Gugur dalam vuur contact ini, Koptu Adnan, Kopda Soedjono dan Pratu Toha.

Sekarang tinggal Manam berdua dengan Kopda Tambunan yang juga terluka parah. Malamnya Tambunan mengigau sambil menyebut-nyebut nama anak dan istrinya. Sesaat kemudian, didepan Manam yang kini seorang diri Tambunan menghembuskan nafas terakhirnya.

Soal melihat kematian rekan sendiri didepan mata juga dialami Soegondo. Soegonda pernah "melepas" rekannya yang tertembak dalam pelukannya. Menurut Soegondo, biasanya kalau korban luka tembak sudah selalu menanyakan waktu dan merasa hari gelap padahal masih siang itu tanda-tanda mau meninggal.

Tanggal 10 Juni, Manam kembali bisa bertemu dengan rekannya dari kelompok lain dam menggabungkan diri. Suatu siang mereka kembali berpaspasan dengan patroli Belanda yang dibantu penduduk lokal. (€.borgol)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad