Targethukumonline. Pati - Tradisi nguri uri kearifan lokal sebagai haritage sejarah leluhur menjadi warisan keluhuran budaya kota Jepara. Seekor kerbau bule dikirab dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu menuju rumah pemotongan hewan (RPH) kelurahan Jobokuto, kecamatan Jepara untuk disembelih, pada Jumat (27/03/26) pagi.
Tradisi penyembelihan kerbau ini sebagai awal rancangan tradisi pesta lomban larung atau sedekah laut di kabupaten Jepara. Bahwa kearifan lokal budaya leluhur untuk keselamatan alam dan manusia adalah awal bukti hubungan spritual yang ada.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Ali Hidayat mengungkapkan, rencananya kegiatan dimulai pukul 06.00 WIB.
“Kirab kerbau ini untuk membuktikan dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa benar-benar ada kerbau yang dipotong. Hingga mematahkan narasi yang muncul bahwa kepala kerbau yang dilarung dibeli dari pasar,” ungkap Ali Hidayat, Kamis (27/3).
Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini kerbau yang potong merupakan kerbau bule atau kerbau yang memiliki warna kulit putih kemerah-merahan. Kerbau jenis ini dianggap masyarakat, memiliki keberkahan.
Warna kulit putih kemerahan (albino) menjadikan kerbau ini dianggap unik dan keramat. Mereka (red-kerbau) dianggap simbol keselamatan, kemakmuran, dan penolak bencana. Penyembelihan kerbau bule dilakukan untuk memohon keselamatan dan menjauhkan bencana (tolak bala).
“Daging kerbau nantinya akan dibagikan kepada warga serta dimasak untuk dimakan bersama-sama warga. Sedangkan kepala kerbau akan dilarung keesokan harinya,” kata Ali.
Setelah kirab kerbau, sore harinya juga dilakukan ziarah ke Makam Cik Lanang di Kelurahan Bulu dan Makam Mbah Ronggo di Kelurahan Ujungbatu.
Malam harinya digelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk di TPI Ujungbatu.
Kali ini menghadirkan dalang Ki Danar Yogi Iswara dengan lakon “Wahyu Sandang Pangan”.
Pementasan wayang kulit berlanjut hingga keesokan harinya dengan dalang Ki Muntohar, dengan lakon "Dewa Ruci".
“Kami persilahkan kepada masyarakat untuk datang dan menyaksikan pementasan wayang kulit,” sambung Ali.
Puncak tradisi pesta lomban digelar pada sabtu, (28/03/26), berupa pelarungan kepala kerbau ke tengah laut lepas. Kegiatan akan dimulai pukul 06.00 WIB. Ribuan masyarakat kota Jepara akan hadir dalam kegiatan ini sebagai bentuk kearifan lokal yang harus terus dilestarikan.
Setelah proses larungan kepala kerbau, kegiatan akan dilanjut dengan festival kupat lepet. Kali ini disediakan 1.447 buah kupat dan lepet untuk diperebutkan warga di pantai Kartini Jepara.
“Kami berharap even ini akan mendatangkan para wisatawan lokal baik domestik maupun dari luar kota untuk datang ke Jepara,” pungkas Ali. (@ris)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar